Meskipun bencana baru-baru ini dan ancaman, seperti terorisme, SARS dan AIDS, masih banyak wisatawan pergi ke Filipina, sebuah negara pulau tropis dengan pulau-pulau kecil yang menawarkan pantai berpasir yang indah dikelilingi oleh air bening. Tapi, itu bukan hal utama para wisatawan pergi ke Filipina, mereka pergi ke sana untuk seks. Di Asia, bahkan dibandingkan dengan Thailand, industri seks Filipina adalah salah satu yang paling berkembang. panti pijat, Bar, klub karaoke, pub dan liang seks tersebar di seluruh Manila, dan sekitarnya. Tempat-tempat ini dipenuhi dengan para gadis muda dan seksi dan berbahasa Inggris baik dan bersedia melakukan apa pun untuk membuat pelanggan laki-laki mereka puas. Karena tingkat kemiskinan negeri ini, banyak, dan kita bicara banyak, dari gadis lokal miskin terpaksa berhenti sekolah dan bekerja dalam kehidupan malam dan bawah tanah. Hukum menyatakan bahwa gadis-gadis di bawah umur 18 tahun tidak diijinkan untuk bekerja di salah satu tempat ini tetapi tidak jarang Anda dapat menemukan beberapa dari mereka yang masih berumur 16, bahkan lebih muda kadang-kadang. Mereka bahkan membuat KTP palsu sendiri atau orang lain membuatkannya untuk mereka. Berikut adalah kisah yang diberitahu oleh seorang cewek bar lokal: Bagaimana menurut kalian? Cerita ini banyak terjadi juga di Indonesia kan? |
4.26.2011
Sebuah Cerita dari Gadis Bar yang terpaksa Menjual Keperawanan
Naskah Kuno Sumbar Terancam, Karena Kekurangan Anggaran
Wikimedia Commons
Penyelamatan naskah-naskah kuno Minangkabau dari sejumlah wilayah kabupaten/kota di Sumatra Barat relatif sulit dilakukan karena keterbatasan anggaran.
Kepala Bidang Deposit Pengamatan dan Pelestarian Bahan Pustaka Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumbar, Surya Esra, Senin (25/4) di Kota Padang mengatakan tidak ada dana yang dianggarkan secara khusus untuk pembelian naskah-naskah kuno itu. Padahal, berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 43/2007 tentang perpustakaan, di dalamnya juga mengatur soal perhatian terhadap naskah-naskah kuno tersebut.
Akibatnya, imbuh Surya, hingga kini pihaknya baru memiliki 23 naskah kuno Minangkabau yang sementara ini diperoleh dari masyarakat di Kabupaten Agam, Pesisir Selatan, Solok Selatan, Padangpariaman, dan Kota Padang yang berisikan soal pajak gadai, sifat-sifat rasul, obat-obatan, dan cerita rakyat. Sementara kebanyakan naskah-naskah tersebar di Malaysia dan Singapura.
Anggota DPRD Sumbar Abel Tasman mengatakan, sejauh ini politik anggaran memang belum berpihak pada upaya penyelamatan naskah-naskah kuno. Ia mengatakan, anggaran untuk Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumbar hanya sekitar Rp10 miliar per tahun untuk seluruh kegiatan ditambah dana dari pusat sekitar Rp2 miliar .
"Memang belum ada perhatian ke situ. Di DPRD pun hanya sedikit anggota yang peduli. Padahal ini persoalan yang paling mendasar untuk membangun," kata Abel.
Berdasarkan catatan Kompas, naskah-naskah kuno Minangkabau yang berisikan cerita-cerita rakyat, ajaran dan hukum agama, asal-usul, dan beragam jenis naskah kuno lainnya diketahui telah diperjualbelikan ke luar negeri.
Praktik jual beli itu terutama terjadi di Kota Payakumbuh, selain di Kabupaten Dharmasraya dan Pariaman. Para pemburu naskah dan barang-barang kuno itu biasanya bergerilya hingga ke kampung-kampung guna mendapatkan yang diinginkan. (Ingki Rinaldi)
Kepala Bidang Deposit Pengamatan dan Pelestarian Bahan Pustaka Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumbar, Surya Esra, Senin (25/4) di Kota Padang mengatakan tidak ada dana yang dianggarkan secara khusus untuk pembelian naskah-naskah kuno itu. Padahal, berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 43/2007 tentang perpustakaan, di dalamnya juga mengatur soal perhatian terhadap naskah-naskah kuno tersebut.
Akibatnya, imbuh Surya, hingga kini pihaknya baru memiliki 23 naskah kuno Minangkabau yang sementara ini diperoleh dari masyarakat di Kabupaten Agam, Pesisir Selatan, Solok Selatan, Padangpariaman, dan Kota Padang yang berisikan soal pajak gadai, sifat-sifat rasul, obat-obatan, dan cerita rakyat. Sementara kebanyakan naskah-naskah tersebar di Malaysia dan Singapura.
Anggota DPRD Sumbar Abel Tasman mengatakan, sejauh ini politik anggaran memang belum berpihak pada upaya penyelamatan naskah-naskah kuno. Ia mengatakan, anggaran untuk Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumbar hanya sekitar Rp10 miliar per tahun untuk seluruh kegiatan ditambah dana dari pusat sekitar Rp2 miliar .
"Memang belum ada perhatian ke situ. Di DPRD pun hanya sedikit anggota yang peduli. Padahal ini persoalan yang paling mendasar untuk membangun," kata Abel.
Berdasarkan catatan Kompas, naskah-naskah kuno Minangkabau yang berisikan cerita-cerita rakyat, ajaran dan hukum agama, asal-usul, dan beragam jenis naskah kuno lainnya diketahui telah diperjualbelikan ke luar negeri.
Praktik jual beli itu terutama terjadi di Kota Payakumbuh, selain di Kabupaten Dharmasraya dan Pariaman. Para pemburu naskah dan barang-barang kuno itu biasanya bergerilya hingga ke kampung-kampung guna mendapatkan yang diinginkan. (Ingki Rinaldi)
4.25.2011
Istana dirancang di Bom Roket
Pepi Fernando, sutradara film dokumenter yang diduga jadi otak teror bom buku dan rencana pengeboman gereja, ternyata sudah mengincar Istana Negara dan Mabes Polri. "Mereka (kelompok Pepi) ingin menyerang Istana atau Mabes Polri jika bom gereja di Serpong sukses. Alhamdulillah, rencana itu berhasil kita gagalkan," kata sumber Jawa Pos di lingkungan kepolisian kemarin (24/4).
Aparat Densus 88 Mabes Polri memang terus mengembangkan penyidikan terhadap kelompok Pepi Fernando ini. Di antaranya petugas melakukan penggeledahan di sejumlah tempat di sekitar Jakarta yang digunakan sebagai safe house dan penyimpanan logistik jaringan.
Salah satu lokasi yang terus digeledah adalah rumah mertua Pepi yang berlamat Jalan Seruni II No 14 Blok CE, RT 08/19 Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria, Bekasi Barat. Tim penyisir dari Gegana Mabes Polri menemukan bahan berbahaya milik kelompok Pepi.
Di antaranya satu granat nanas, satu buah campuran adonan bahan peledak diameter 3 cm. "Juga ditemukan casing bom model roket belum terisi bahan peledak namun siap luncur," ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Boy Rafli Amar kemarin (24/04).
Selain itu, bom model kaleng lima buah dan satu buah sudah siap dengan isi. Bahan bom yang sudah jadi dua buah, casing bom model kotak satu buah, solder, potongan pipa besi, dan timer dengan jam dinding. "Sekarang, bahan-bahan itu sedang diselidiki oleh petugas Laboratorium Forensik Polri," katanya.
Dari bahan yang ditemukan dan keterangan yang diperpleh selama pemeriksaan, Polri menduga kelompok Pepi tak hanya merencanakan serangan terhadap gereja Christ Catedral Sepong. "Masih didalami penyidik apa saja yang mereka rencanakan. Termasuk apakah masih ada bagian jaringannya yang belum tertangkap," katanya.
Secara terpisah sumber Jawa Pos menyebut, bom roket kelompok Pepi didesain untuk meluncur dengan jarak 1000 meter. "Mereka pernah melakukan ujicoba di Sukabumi tapi gagal," katanya. Dari pengakuan sementara Pepi, roket itu didesain untuk menyerang objek vital negara. Pepi Fernando adalah alumni Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2001.
Selama kuliah, menurut temannya Ace Hasan, Pepi adalah pribadi yang gaul, selengekan bahkan cenderung urakan. Tidak ada sikap ekstrim dalam menjalankan kehidupan agamanya. Lantas bagaimana Pepi berubah?
Sumber Jawa Pos menjelaskan, Pepi mulai bersentuhan dengan ide-ide radikal saat pergi ke Aceh sebagai relawan tsunami Aceh 2004 sampai pertengahan 2005. "Dia mengenal kelompok relawan mujahidin Kompak yang membuka posko di Nagan Raya dan Meulabouh, Aceh," katanya.
Pulang dari sana, Pepi mulai mengenal pengajian-pengajian keislaman yang cenderung radikal. Di antaranya, kajian jihad oleh kelompok Darul Islam pimpinan Kang Jaja atau sering disebut NII ring Banten. Jaja sendiri sudah mati dalam baku tembak dengan aparat Polsek Leupeung, Aceh, Maret 2010 lalu. Walaupun aktif dalam pengajian kelompok ini, Pepi tidak tercatat sebagai anggota resmi. "Dia tidak berbaiat," kata sumber lain Jawa Pos dari kalangan eks kombatan yang dihubungi terpisah.
Penangkapan, penembakan, dan aksi Densus 88 selama beberapa tahun terakhir rupanya menginspirasi Pepi untuk bergerak sendiri. "Istilahnya jihad fardhiyah, jihad individual tanpa harus berkonsultasi dengan imam atau mas"ul (pemimpin)," katanya. Menurut penyidik muda ini, Pepi lantas menghubungi beberapa orang mantan alumni UIN yang juga punya kecenderungan sama. "Mereka lalu membuka bisnis di Aceh. Di antaranya jasa rental mobil yang melayani trayek Meulabouh-Banda Aceh," katanya.
Setelah dana siap, kelompok ini lantas bereksperimen dengan serangan bom buku. "Mereka terinspirasi dari naskah jihad Syaikh Faris bin Ahmad Alu Syuwail Az Zahroni yang membahas tentang igtiyalat atau operasi pembunuhan terbatas," jelasnya. Dari pemeriksaan sementara, dana kelompok ini mencapai Rp 100 juta. "Digunakan untuk membeli bahan-bahan karbit, serbuk mercon, dan alat-alat lain," tambahnya.
Mantan rekan Pepi saat bekerja di program infotainment menyatakan terkejut mengetahui keterlibatan Pepi yang disebut-sebut sebagai otak dalam rencana aksi terorisme di Tangerang. Menurut dia, pada 2006, Pepi keluar dari production house tempatnya bekerja dan bergelut dalam pembuatan film dokumenter. Selama menjadi senior reporter di program tayangan infotainment Otista diketahuinya bahwa Pepi bukan sosok yang sangat religius. "Namun teman-teman bercerita bahwa Pepi mulai mengalami perubahan drastis belakangan ini," ujar pria yang tidak mau disebut namanya itu.
Mantan teman sekantor itu membenarkan adanya perubahan tersebut, baik dari cara pandang agama maupun gaya berbahasa Pepi. Perubahan itu terjadi sejak dia pergi ke Aceh. "Berubah menjadi lebih agamis. Tapi, tidak menyangka menjadi ekstrem, apalagi menjadi teroris," ujarnya. Dia mengatakan kurang mengetahui tujuan kepergian Pepi ke Aceh. Namun, setelah pulang, Pepi sering berceramah keagamaan.
Dia juga menuturkan bahwa Pepi saat ini memiliki anak di kandungan yang berumur enam bulan dari buah cintanya dengan DC, yang dinikahi beberapa tahun lalu. DC adalah salah seorang staf divisi di Badan Narkotika Nasional (BNN). Pepi diketahui berkenalan dengan IF, yang disebut sebagai kamerawan Global TV saat bekerja membuat program dokumenter tersebut sekitar 2006.
Di bagian lain, keluarga Imam Firdaus (IF), kamerawan Global TV yang dikabarkan ditangkap petugas Densus 88 terkait dengan aksi teror masih shock. Hingga kini mereka belum mendapat informasi mengenai kondisi dan keberadaan IF saat ini. Menurut pengacara Ferry Juan, keluarga IF telah menemuinya untuk dimintai bantuan hukum terkait hal ini. Ada tiga orang dari keluarga yang datang. Mereka adalah ibunda IF, adik perempuannya, dan paman IF yang bernama Rasjum.
"Keluarga sedang mempersiapkan surat kuasa dan akan segera ditandatangani. Mereka hanya ingin tahu keberadaan IF, apakah benar di kantor polisi atau tidak," ujar Ferry Juan yang dihubungi kemarin. Dalam pertemuan itu dijelaskan bahwa keluarga ingin mengetahui keberadaan IF. Dari keterangan keluarga, IF dibawa sembilan petugas berpakaian preman sekitar pukul 22.30 WIB, pada Kamis 22 April 2011. "Keluarga bingung IF dibawa ke mana. Mereka perlu tahu kondisinya," ujarnya.
Menurutnya, langkah pertama untuk memuaskan hati keluarga adalah dengan mendatangi Mabes Polri. Hal itu akan dilakukan Sabtu malam, 23 April 2011, setelah surat kuasa diterima. "Bila benar dibawa Densus, kita akan menghormati hak yang berwenang. Patuh pada kewenangan dan aturan 7 x 24 jam pelaku dugaan teror tidak dapat ditemui. Tapi kenapa polisi juga sudah memberikan keterangan sebagai tersangka terhadap IF. Ini yang membingungkan,"ujarnya lagi.
Hingga kini pihak Global TV juga belum bisa memberi kepastian untuk bantuan hukum kepada IF. "Belum tahu, karena kita belum bisa pastikan. Karena akan ada banyak kemungkinan terjadi. Kita menyerahkan ini pada kepolisian. Kita sangat tunduk pada hukum yang berlaku,"ujar News Director Global TV, Arya Mahendra Sinulingga.
Di bagian lain, penyidik Densus 88 Polda Jawa Barat kemarin menggeledah rumah di Jalan Suratno No. 11 RT 01/01 Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, Jawa Barat. Garis polisi dipasang di sisi kiri dan kanan jalan, sehingga area rumah pun tertutup bagi warga.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, rumah tersebut milik almarhum Akmaludin dan istrinya, Siti Juhariah. Siti Juhariah tinggal di rumah tersebut bersama 3 anaknya, yaitu Arif Budiman alias Dede, Reza, dan Agung. Arif tinggal bersama istri dan 2 anak mereka. Mereka sehari-hari hidup dengan berjualan voucher pulsa di depan rumah. Saat ini Siti Juhariah, Arif, dan keluarganya dibawa polisi.
Data yang diperoleh Radar di lokasi, selain Dede, tim Densus 88 Mabes Polri juga telah menahan Agung Bronis adik kandung Dede yang merupakan teman dekat Moh Syarif pelaku bom bunuh diri di Mapolres Cirebon Kota. Guna penyelidikan lebih lanjut, tim Densus 88 juga membawa serta istri, ibu kandung dan kedua anak Arif Budiman alias Dede.
Pemeriksaan dan penggeledahan di rumah tersebut berlangsung sekitar pukul 10.30 dan berakhir sekitar pukul 15.15. Proses jalannya penggeledahan tersebut dijaga ketat puluhan petugas Dalmas dari Polres Cirebon Kota dan Sat Brimob Detasemen C Polda Jawa Barat dengan membawa senjata lengkap yang siap menembak. "Peran kami disini hanyalah membantu tim Densus 88 selama penggrebekan dan penggeledahan. Untuk keterangan pers kami tidak punya wewenang karena kasus ini ditangani langsung oleh Mabes Polri dan Polda Jawa Barat," jelas Kapolres Cirebon Kota AKBP Asep Edi Suheri. (rdl/mos/jpnn/iro)
Jejak Sutradara Teror Bom
1. Pepi Fernando lahir di Sukabumi, 10 Desember 1979.
2. Kuliah di Fakultas Tarbiyah UIN Jakarta, lulus pada 2001.
3. Menjadi relawan tsunami di Aceh pada 2004.
4. Berkenalan dengan kelompok mujahidin Kompak yang membuka posko relawan di Nagan Raya dan Meulaboh.
5. Di Jakarta "mengaji" dengan ustad jaringan Darul Islam Banten pimpinan Kang Jaja, yang tewas setelah ditembak polisi di Aceh pada 2010.
6. Merekrut dan mengembangkan jaringan sendiri. Belajar membuat bom dari kopi manual dan hasil download internet.
7. Di antara 19 anggota yang ditangkap, sepuluh orang mengaku tidak tahu-menahu. Mereka hanya karyawan dan rekan kerja Pepi yang punya bisnis jasa percetakan, pembuatan film dokumenter, dan las karbit.
8. Bereksperimen dengan bom buku, lalu bom pipa gas gereja di Serpong. Merencanakan bom roket dengan sasaran istana dan Mabes Polri.
Ki Joko Bodo Jadi Tersangka KDRT
Ki Joko Bodo (Foto:Elang Riki Yanuar/okezone)
DENPASAR - Ki Joko Bodo ditetapkan sebagai tersangka dalam DENPASAR - Ki Joko Bodo ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) terhadap Ni Kadek Leli Mariati. Rupanya, paranormal itu memukul setelah lebih dulu dicakar Mariati.
Seperti dipaparkan Kepala Sub Bidang Penerangan Masyarakat Polda Bali, AKBP Sri Harmiti, yang ditemui wartawan di Mapolda Bali, Senin (25/04/2011), peristiwa bermula saat Ki Joko Bodo dan Mariati tengah berada di dalam mobil di seputaran Jalan Imam Bonjol Denpasar, sekira pukul 11.30 Wita, 30 Maret.
Ketika berada dalam mobil, Ki Joko meminta kepada istrinya untuk mengambilkan baju warna merah. Namun entah kenapa, keduanya lalu terlibat keributan. Sampai puncaknya, Mariati mencakar tubuh Ki Joko Bodo. Secara secara refleks, pria bertubuh kecil itu menangkis cakaran. Namun tangkisan mengenai wajah Mariati.
Perbuatan itulah yang kemudian dilaporkan Mariati sebagai tindak KDRT. Dalam laporannya dengan nomor laporan LP/145/III/2011/Bali/Dit Reskrim, telah diterima di bagian PPA pada 31 Maret.
Dalam laporanya, wanita kelahiran kelahiran 28 Agustus 1984 ini mengalami luka sobek pada pipinya di bagian bawah mata. Hanya saja, kata Harmiti, tindak pidana yang dilakukan pria berdarah Bali itu tergolong ringan sebagaimana diperkuat hasil visum.
Hasil visum menunjukkan pemilik salon kecantikan di daerah Denpasar Selatan (Densel) ini hanya menderita luka ringan.
Dari hasil penyidikan, Ki Joko Bodo telah ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat pasal 44 UU RI No 23 tahun 2004 dengan ancaman maksimal 5 tahun bui.
4.24.2011
Implan payudara Meletus Saat Penerbangan
Irena D mungkin menyesal pernah melakukan operasi implan payudara. Bukan hanya lantaran harus membayar mahal, tapi operasi perbesaran hingga ukuran F itu justru membuatnya kehilangan payudara dan jatuh sakit.
Seperti dikutip dari The Register, wanita asal Rusia itu harus menjalani perawatan intensif setelah melakukan penerbangan dari Moskow ke California. Implan payudaranya meletus akibat tak mampu menahan perbedaan tekanan di pesawat, selama penerbangan.
Wanita 45 tahun itu menderita sakit luar biasa saat transit di bandara Los Angeles, pertengahan 2009 silam. Kondisinya gawat saat turun dari sebuah pesawat Aeroflot Boeing 767-300 yang mengangkutnya. Setelah pemeriksaan intensif, dokter mengatakan bahwa sakit itu akibat letusan implan.
Meski demikian, seorang ahli bedah mengatakan, "Kemungkinan besar wanita itu sudah memiliki masalah dengan payudaranya sebelumnya, dan implan meletus karena perbedaan tekanan di pesawat."
Atas musibah itu, Irene harus menghabiskan liburannya di rumah sakit. Ia terpaksa menjalani pengangkatan payudara demi menghentikan peradangan meluas. Ia pun menerima ancaman kesehatan serius jika nekat melakukan perbesaran payudara lagi.
Kasus implan meletus juga pernah menimpa seorang wanita Inggris, Lindsey Easeman. Tahun lalu, wanita 27 tahun ini menjalani pengangkatan payudara setelah implan di payudara bagian kanan meletus sehingga meradang dan membentuk benjolan, tepat setahun pascaoperasi.
Musibah yang menimpa Lindsey terjadi akibat penggunaan implan payudara berbahan Poly Implant Prothese (PIP). Bahan gel berbahaya yang diproduksi perusahaan asal Prancis ini sudah lama ditentang pakar medis karena bisa memicu peradangan serius di area payudara.
vivanews.com
Seperti dikutip dari The Register, wanita asal Rusia itu harus menjalani perawatan intensif setelah melakukan penerbangan dari Moskow ke California. Implan payudaranya meletus akibat tak mampu menahan perbedaan tekanan di pesawat, selama penerbangan.
Wanita 45 tahun itu menderita sakit luar biasa saat transit di bandara Los Angeles, pertengahan 2009 silam. Kondisinya gawat saat turun dari sebuah pesawat Aeroflot Boeing 767-300 yang mengangkutnya. Setelah pemeriksaan intensif, dokter mengatakan bahwa sakit itu akibat letusan implan.
Meski demikian, seorang ahli bedah mengatakan, "Kemungkinan besar wanita itu sudah memiliki masalah dengan payudaranya sebelumnya, dan implan meletus karena perbedaan tekanan di pesawat."
Atas musibah itu, Irene harus menghabiskan liburannya di rumah sakit. Ia terpaksa menjalani pengangkatan payudara demi menghentikan peradangan meluas. Ia pun menerima ancaman kesehatan serius jika nekat melakukan perbesaran payudara lagi.
Kasus implan meletus juga pernah menimpa seorang wanita Inggris, Lindsey Easeman. Tahun lalu, wanita 27 tahun ini menjalani pengangkatan payudara setelah implan di payudara bagian kanan meletus sehingga meradang dan membentuk benjolan, tepat setahun pascaoperasi.
Musibah yang menimpa Lindsey terjadi akibat penggunaan implan payudara berbahan Poly Implant Prothese (PIP). Bahan gel berbahaya yang diproduksi perusahaan asal Prancis ini sudah lama ditentang pakar medis karena bisa memicu peradangan serius di area payudara.
vivanews.com
Fakta atau Hoak : Ages Foto Bareng Kuntilanak?
Batu Ini Selamatkan Warga dari Tsunami
Dengan tinggi 4 kaki atau 1,2 meter, batu ini nampak biasa saja, tak ada yang istimewa. Namun, siapa sangka ia yang menyelamatkan nyawa penduduk Aneyoshi, Prefektur Iwate, saat tsunami dahsyat menerjang Jepang, 11 Maret 2011 lalu.
Di batu abu-abu itu terpahat sebuah peringatan: "Jangan mendirikan rumah di bawah titik ini." Siapapun yang melanggar akan menghadapi risiko banjir dan tsunami.
Dan, masyarakat mematuhi anjuran kuno itu. Desa kecil yang terdiri dari 11 rumah dan 32 penduduk selamat, meski sejatinya mereka berada di posisi genting. Gelombang tsunami 2011 menerjang, hanya 300 kaki atau 91,44 meter di bawah prasasti itu.
Dalam sejarah Jepang tsunami kerap kali terjadi. Para leluhur mencoba memperingatkan generasi mendatang melalui batu-batu prasasti yang biasa ditemui di sepanjang pantai. Beberapa batu bahkan berusia 600 tahun.
"Prasasti itu adalah peringatan antar generasi, mengingatkan para generasi mendatang menghindari penderitaan yang sama dengan nenek moyang mereka," kata Itoko Kitahara, ahli bencana alam dari Ritsumeikan University di Kyoto, kepada New York Times.
Adalah tsunami di tahun 1896 yang menewaskan 22.000 orang, yang meyakinkan warga Aneyoshi untuk pindah ke wilayah yang lebih tinggi dan menetap di sana.
Setelah kondisi stabil, lama tak terjadi tsunami, warga mulai memberanikan diri menuruni bukit menuju pantai. Akibatnya fatal, tahun 1933 tsunami kembali melanda, hanya empat yang selamat. Setelah musibah itu, prasasti batu didirikan. Batu itulah yang diyakini penduduk desa, telah menyelamatkan mereka dari tsunami 1960.
"Mereka paham horor tsunami, maka mereka dirikan prasaasti batu untuk memperingatkan kami," kata Tamishige Kimura (64), pemimpin Aneyoshi.
Menurut dia, belajar dari pengalaman, penduduk desa menganggap prasasti tersebut adalah aturan dari para leluhur. "Tak ada satupun yang berani melanggarnya."
Dan anjuran itu terbukti, gempa 9,0 skala Richter dan tsunami yang menewaskan 29.000 orang, yang paling parah sejak gempa Jongan tahun 869, tak menyentuh Aneyoshi. Meski ada warga yang kehilangan empat keluarganya yang hanyut saat bepergian di kota tetangga. Para penduduk Aneyoshi pun meniru apa yang dilakukan para leluhur. Cat biru ditorehkan di titik dimana gelombang tsunami 2011 menjangkau bukit.
Tak hanya prasasti, peringatan dari leluhur juga diwujudkan saat menamai sebuah lokasi. Misalnya Nokoriya yang diterjemahkan sebagai 'Lembah Korban' atau Namiwake yang berarti pinggiran ombak.
Namun, meski batu peringatan tersebar di hampir seluruh Jepang, banyak juga yang abai. Mereka mengabaikan nasehat para nenek moyang dan membangun rumah dekat pantai. Dan, akibatnya fatal.
"Dengan dengan berjalannya waktu, orang pasti lupa, sampai tsunami yang lain datang yang membunuh 10.000 orang lebih," kata penulis dan ahli tsunami, Fumio Yamashita.
Subscribe to:
Posts (Atom)
