4.27.2011

Perbedaan Lady Diana Dan Kate Middleton


Dalam hitungan hari, pernikahan Pangeran William dengan Kate Middleton akan dilangsungkan. Tampaknya, Kate belum bisa menikmati masa tenang, sebab masyarakat masih saja membandingkan sosoknya dengan mendiang Lady Diana.

Banyak yang berspekulasi pernikahan Pangeran William dan Kate akan langgeng ketimbang pernikahan Pangeran Charles dan Putri Diana. Benarkah?

Berikut beberapa perbedaan mencolok antara Kate Middleton dan Lady Diana, seperti dikutip dari Your Tango.

Pengumuman pertunangan
Pangeran Charles dan Diana tidak begitu mengenal satu sama lain saat mengumumkan pertunangan, karena jalinan cinta mereka tergolong singkat. Ketika menjawab pertanyaan, Diana tampak malu dan jauh dari Charles. Keduanya juga kaku dan terlalu membentengi diri sebagai pasangan yang sedang dimabuk cinta.

Berbeda dengan Kate dan William, keduanya tampak nyaman satu sama lain. Saat wawancara, Kate terlihat sebagai pribadi yang senang bicara, keduanya juga tidak berhenti tersenyum dan dapat saling menyimak jawaban pasangannya. Pasangan ini lebih tampil di depan umum.

Masa kecil
Diana besar di tengah orangtua yang bercerai. Perdebatan soal perwalian anak menyebabkannya sakit hati dan sedih. Efek tersebut dia rasakan saat diasingkan teman-teman sekelasnya, terutama sejak sang ayah memenangkan perwalian Diana dan keempat saudaranya.

Berbeda dengan Kate yang berasal dari keluarga lebih harmonis. Orangtua Kate masih bersama hingga usia pernikahan kini 31 tahun. Karena dibesarkan oleh orangtua yang memiliki hubungan sehat, Kate mungkin akan lebih baik dalam menghadapi masalah dalam pernikahan.

Kelas sosial
Tinggal tidak jauh dengan rumah Ratu Elizabeth II di Sandringham Estate, ayah Diana memiliki gelar bangsawan di Inggris dan melayani Ratu dengan posisi terhormat sebagai horse stable master alias tuan penjaga kandang kuda. Hubungan kedua keluarga cukup dekat sampai-sampai Pangeran Andrew dan Pangeran Edward kerap berenang di kolam renang keluarga Diana.

Kate tidak tinggal dekat dengan Ratu atau memiliki gelar kebangsaan, tapi orangtua Kate adalah pengusaha perlengkapan pesta yang cukup sukses. Orangtua Kate berusaha sendiri untuk menjadi jutawan, itulah mengapa Kate ada di kelas menengah-atas.

Pendidikan
Setelah keluar dari sekolah asrama di usia 16 tahun, ayah Diana mengirim putrinya untuk menyelesaikan sekolah di Switzerland, namun dia hanya bertahan beberapa bulan di sana. Diana tahu dirinya menyukai anak-anak, tapi tidak memiliki sertifikat memadai untuk menjadi guru. Dia pun memutuskan menjadi asisten di sebuah sekolah keperawatan, tapi berhenti bekerja setelah dipersunting Pangeran Charles.

Sementara, Kate berhasil menyelesaikan sekolah asrama dan melanjutkan pendidikan di St. Andrews University di mana dia mempelajari sejarah kesenian dan akhirnya bertemu dengan Pangeran William. Kate akan menjadi Putri Inggris pertama yang mencicipi bangku kuliah dan bekerja, meski tidak lama. Sebelumnya Kate bekerja selama setahun sebagai pembeli aksesori untuk perusahaan busana Jigsaw lalu mengejar karier di bidang fotografi.

Kepribadian
Diana percaya, seorang wanita cantik seharusnya sederhana dan pemalu. Diana tampak kurang berpengalaman saat berhadapan dengan pengalaman hidup. Maklum, Diana masih 19 tahun saat bertunangan dengan Charles dan masih sangat takut menghadapi dunia.

Di usianya yang telah mencapai 28 tahun, Kate berusia lebih tua saat mengumumkan pertunangannya. Dia telah menyelesaikan pendidikannya dan hidup mandiri. Kate menghadapi dunia dengan penuh percaya diri, anggun, dan berkelas.

Seperti dikutip Daily Mail, “Seorang teman mengatakan betapa beruntungnya Kate berpacaran dengan William, tapi Kate membalasnya dengan cepat, ‘Dia beruntung berpacaran dengan saya’.” Sangat berbeda dengan Diana yang sempat berkomentar, ‘Jika saya cukup beruntung untuk menjadi Princess of Wales..”.

Gaya berbusana
Ketika pertama kali terlihat bersama Pangeran Charles, Diana bukanlah seorang fashionista. Namun seiring perhatian khalayak, dia telah menjadi ikon mode. Pengamat mode menilai, Kate kerap meniru gaya berbusana Diana, di antaranya jaket ski berwarna merah, koleksi topi, dan busana berwarna biru Virgin Mary yang Kate kenakan sewaktu mengumumkan pertunangan.

Kate lebih tua dan lebih percaya diri dari Diana, maka banyak yang berharap dirinya mampu membuat pilihan busana lebih baik. Konsep gaya busana terbesarnya adalah mempertahankan gaya busana yang santai namun elegan dan mungkin melupakan busana rancangan desainer, tapi memilih busana yang terjangkau bagi masyarakat Inggris.

Teman dan kehidupan sosial
Diana tidak pernah dekat dengan teman-teman Charles. Banyak teman Charles yang mengemukakan bahwa mereka tidak pantas bersatu. Mereka tidak berada dalam lingkaran sosial yang sama, sehingga selama pernikahan mereka tumbuh menjadi pribadi yang saling menjauh. Diana mungkin dikelilingi oleh teman selebriti dan bangsawan, namun merasa sangat terisolasi dalam menjalani kehidupannya.

Sementara itu, Kate dan William dilaporkan memiliki lebih banyak kesamaan. Lingkaran kehidupan sosial William pada dasarnya lebih banyak dihabiskan bersama keluarga Kate. Kate, misalnya, lebih dekat dengan adiknya, Pippa. Keduanya tahu benar siapa teman sejati mereka.

Seksualitas
Ketika pengumuman pertunangan Charles dan Diana pada 1981 kepada wartawan Inggris, paman Diana mengumumkan bahwa Diana adalah seorang gadis yang masih perawan. Kendati begitu, sebuah rumor mengatakan keperawanan Diana masih harus diperiksa oleh pihak kerajaan, karena ketakutan mereka atas banyaknya mantan kekasih yang bersedia menceritakan berita sensasional apa saja demi uang.

Berbeda dengan Kate dan William yang selama beberapa tahun terakhir telah hidup bersama. Keduanya sering menghabiskan liburan di tempat romantis. Faktanya, William pertama kali tertarik pada Kate saat dia mengenakan busana tembus pandang di sebuah peragaan busana.

[+/-] Selengkapnya...

4.26.2011

Empat Propinsi dengan Skor Otonomi Terendah

TEMPO Interaktif, Bogor  - Hasil evaluasi Departemen Dalam Negeri menyatakan skor empat provinsi terburuk dalam otonomi daerah. Keempat daerah itu adalah Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Papua, dan Nanggroe Aceh Darussalam. “(Keempatnya berada) di kategori sedang,” kata Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Djohermansyah Djohan dalam peringatan Otonomi Daerah di Balai Kota Bogor, Jawa Barat, 25 April 2011.


Kementerian membuat pemeringkatan itu berdasar 173 indikator yang termuat dalam laporan kinerja penyelenggaraan otonomi daerah tahun 2009. Indikator penilaian itu antara lain kinerja keuangan, pelayanan publik, transparansi, dan akuntabilitas. Meski terkategori sedang, sejatinya keempat provinsi menempati peringkat bontot. "Tidak ada yang masuk kategori rendah,” kata dia.

Djohermansyah mengaku tak ingat kelemahan keempat provinsi sehingga jatuh di peringkat bawah. Tetapi ada beberapa hal yang bisa diperbaiki pemerintah daerah agar kinerjanya lebih kinclong.
Pemerintah daerah harus membenahi tata kelola supaya menangkal korupsi. Adanya kasus korupsi kepala daerah menjadi poin yang menjatuhkan penilaian kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, transparansi, dan akuntabilitas. Pemerintah lokal juga harus meningkatkan pelayanan publik dan penataan ulang sistem kepala daerah supaya tak lagi ada politik uang dan politisiasi birokrasi.

Daerah dengan kinerja belum bagus bakal mendapat pembinaan dan peningkatan kapasitas. Djohermansyah berpendapat belum perlu penalti bagi daerah yang buruk itu. "Dengan mengumumkan kepada publik adalah disinsentif, kita harapkan teman-teman peringkat rendah memacu kinerjanya," dia menuturkan.

BUNGA MANGGIASIH

[+/-] Selengkapnya...

Daftar Pemerintah Daerah yang Meraih Penghargaan Berkinerja Terbaik 2011


Sejumlah Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten dan Kota berhasil meraih penghargaan sebagai pemerintah daerah (pemda) terbaik. Penetapan ini dihasilkan dari evaluasi yang dilakukan oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sepanjang tahun 2010 atas laporan kinerja Pemda seluruh Indonesia tahun 2009. Pengumuman hasil evaluasi disampaikan oleh Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri Djohermansyah Djohan pada hari Senin, 25 April 2011, dalam acara Peringatan Hari Otonomi Daerah ke XV tahun 2011 yang diselenggarakan di Balaikota Bogor, Jawa Barat.
Djohermansyah juga menjelaskan, “Evaluasi ini didasarkan pada Peraturan Pemerintah No 6/2008 Tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah. Evaluasi dilakukan dengan memakai banyak indikator. Indikator-indikator itu antara lain, penyusunan APBD tepat waktu, laporan keuangan daerah wajar tanpa pengecualian, pelayanan publik, peningkatan daya saing, serta dan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Dari 33 provinsi, 398 Kabupaten dan 93 kota, hampir seluruhnya terkategori tinggi. Selain itu, ada 4 provinsi yang mendapatkan nilai sedang dan berada di urutan terendah, yaitu Provinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Papua, dan Aceh.
Berikut adalah daftar pemerintah daerah yang memperoleh penghargaan dalam acara tersebut :
A.
Peringkat dan Status Kinerja 3 besar Penyelenggaraan Pemerintahan Provinsi Yang Berprestasi  Paling Tinggi Secara Nasional :
 1.Provinsi Sulawesi Utara
 2.Provinsi Sulawesi Selatan
 3.Provinsi Jawa Tengah
B.
Peringkat dan Status Kinerja 10 besar Penyelenggaraan Pemerintahan Kabupaten Yang Berprestasi Paling Tinggi Secara Nasional :
 1.Kabupaten Jombang
 2.Kabupaten Bojonegoro
 3Kabupaten Sragen
 4.Kabupaten Pacitan
 5.Kabupaten Boalemo
 6.Kabupaten Enrekang
 7.Kabupaten Buleleng
 8.Kabupaten Luwu Utara
 9.Kabupaten Karang Anyar
 10.Kabupaten Kulonprogo

C.
Peringkat dan Status Kinerja 10 besar Penyelenggaraan Pemerintahan Kota Yang Berprestasi Paling Tinggi Secara Nasional :
 1.Surakarta
 2.Semarang
 3Banjar
 4.Yogyakarta
 5.Cimahi
 6.Sawahlunto
 7.Probolinggo
 8.Mojokerto
 9.Sukabumi
 10.Bogor

[+/-] Selengkapnya...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
hostgator coupon code